Ummi dan Vidya

Just another WordPress.com site

Taman di Jakarta November 23, 2010

Filed under: Uncategorized — ismmils @ 7:26 am

1. Taman Impian Jaya Ancol. Ahoy, tempat paling ngetop di daerah yang paling pop ini saya sambangi pada sore hari. Niat hati mau liat sanset, eh yg keliatan cuma muda mudi yang berpacaran. Tapi nice banget loh jalan2 menyusuri dermaga di situ. Sepoi2 angin pantai yang membuai emang paling asoi kalo ke sananya ama pacar (no offense untuk para jomblo, kita senasib kok). Ini beberapa oleh2 gambar..

PS: kocak juga nih, tulisannya “motor dan sepeda dilarang masuk”. Jadi kalo mobil, andong, pesawat, de el el boleh masuk? hehe.. Free Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: sekedar nampang di websait sendiri.. ahahaha..

2. Taman Menteng. Taman yg baru dibuat dengan mengorbankan tempat untuk para pencinta sepak bola ini memang sangat nyaman. Fasilitas parkir yang memadai dan tempat makan yang sudah dilokalisasi menambah kenyamanan tersebut. Jadi gak ada lagi tuh yg namanya parkir sembarangan di tepi jalan maupun bingung mau makan apa, karena udah rapi dan jali. Di taman ini, ada beberapa fasilitas lain, di antaranya lapangan basket, lapangan futsal dan track jogging. Sedangkan di tepi2nya anak2 skate meluncur dengan bebasnya. Sekedar saran, coba naik ke lantai parkir paling atas, di sana bisa ngeliat pemandangan ke bawah. Lebih enak kalo malem, lampu2nya bagus, apalagi kalo sama pasangan (haha.. eek banget ah..). Oh ya, ada sebuah bangunan, -rumah kaca look a like-, cuma saya kurang tau untuk apakah tempat itu, karena di dalamnya tidak terdapat apa2. Anak2, remaja, orang dewasa sampe lansia juga ada di sana. Mestinya memang di Jakarta diperbanyak tempat2 seperti ini, bukannya nambah ITC lagi ITC lagi.. Buat bapak yg calon gubernur, coba didengerin dikit dong suara saya yg besok bakal milih situ..

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: ini lapangan basketnya yg saya foto dari parkiran atas

3. Taman Mini Indonesia Indah. Hemm.. ini kunjungan saya ke taman yg paling recently (jiyeh.. bahasa lu tong, nyampur2 kayak es..). Tapi kenapa ya, tiap mo masuk ini bayar, mo anu bayar, emang lo kira gw abis ngepet? jadi duit gw banyak? huh! (padahal juga ke sana dibayarin.. huhu..) Selain banyaknya museum yg bejubel, satu yg paling ingin saya masukin adalah Keong Mas. Bayarnya ya 25.000 deh, kayak nonton di sinema, tapi dokumenter, kira2 40 menit. Waktu itu yg ditayangin adalah “Grand Canyon”. Keren pisan euy.. Oh ya, yg kudu wajib dikunjungi juga segala anjungan yg ada di sana. Keren2 meski kurang bersih. Di tiap anjungan ada aja orang lagi latihan nari, ataupun mempersiapkan sesuatu untuk acara kebudayaan setempat. FYI, TMII dibuka dari jam 7 pagi ampe 10 malem, namun kebanyakan ditutup jam setengah 5 sore. Jadi yaa.. disaranken jangan terlalu larut dalam kesedihan, eh maksudnya jgn terlalu larut malem deh datengnyah. Foto2 di sini lumayan banyak karena paling prepare nih.. Sengaja hp dicas agak lama.. (hehe.. maklum ga ada kamera, jadi pake kamera HaPe yg seadanya..)

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: ini depan tempat naik kereta gantung yg ga jadi saya naikin. Trus enakan naikin apa yaa selain naikin kereta gantung? hihihi..

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: Terlihatlah ini di depan Keong Mas (Pilihan film selain Grand Canyon ada tentang kebudayan Indonesia, ada juga Mystic India. Perhatikan jam2 pemutaran, udah bisa dibeli setengah jam sebelumnya, pemutaran terakir jam 4 sore)

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: Keren nih, adanya di Anjungan Riau, tempat di mana berasalnya para satrawan terkenal di Indonesia. Ini adalah pahatan Gurindam 12 (inget SD gak..?)

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: Maap,ada yg orang Padang? saya baru denger ada yg namanya Es Tebak. Apa jangan2 kalo kita mu mesen es itu, di bakal nanya “Tapi tebak dulu umur saya berapa..?” Hehehe..

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: bukan main istana dangdut inih. Coba diliat pojok kiri atas, tulisannya adalah “Yang penting goyangnya”. Btw ini di samping rel kereta, pas saya mo foto udah ada suara “teet.. teet”, haha.. untung saya lihay, kalo gak lewat eike.. haks..

Free Image Hosting at www.ImageShack.us Free Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: Inget pesawat Seulawah asal Aceh ini gak..? foto di sebelah pesawat adalah keterangannya..

Free Image Hosting at www.ImageShack.usFree Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: kalo ini tempat apotek2 hidup..

Free Image Hosting at www.ImageShack.usFree Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: secara ya bo, heritage eike orang Makasar, jadi paling banyak poto2 ya di tempat dimana Ayam jago dari timur ini berasal..

Free Image Hosting at www.ImageShack.us Free Image Hosting at www.ImageShack.usFree Image Hosting at www.ImageShack.us

PS: yang ada si komo dari NTT, yg candi dan relief itu dari Jawa. Btw di anjungan Jawa ada kayak ruang bawah tanah gitu, jangan2 Bung Tomo lagi asik ngerokok di situ.. Hemm.. harusnya saya samperin aja ya, kasi tau kalo Indonesia udah merdeka.. hihihi..

Free Image Hosting at www.ImageShack.us Free Image Hosting at www.ImageShack.us

 

 

 

Sumber: http://www.titiw.com/2007/08/07/taman-jakarta-cihuylah-pokoknya/

 

Bundaran HI

Filed under: Uncategorized — ismmils @ 7:20 am

MONUMEN PATUNG SELAMAT DATANG, Bundaran HI berada tepat pada garis axis Utara –Selatan mengikat kawasan pelabuhan Tanjung Priok disebelah Utara dan kawasan Kebayoran disebelah selatan ,serta mempunyai simbol-simbol tertentu dengan dua pilar beton dengan tinggi 30 meter dengan tinggi patung sekitar 7 meter terletak pada poros lingkaran piring raksasa dengan garis tengah selebar 100 meter dengan landasan dikelilingi oleh air kolam yang merefleksikan bentuk patung itu dalam bayangannya seakan memberikan kesan kedalaman arti dan makna dari keberadaan monumen selamat datang , sungguh megah monumen terlihat seakan-akan melambai mega raya dilangit.

Jika kita menanyakan kepada orang-orang tua tentang kemegahan monumen tersebut pastilah mereka dengan bangga menceritakan kisah berdirinya Monumen Patung selamat Datang tersebut.

Beberapa puluh tahun kemudian…

Disela-sela pekatnya awan timah hitam yang melayang–layang diatas langit Bundaran HI, tetap tampak sepasang remaja melambaikan tangan lambaian selamat datang ,entah kepada siapa? Dahulu lambaian tangan tersebut disampaikan untuk menyambut duta olahraga dari berbagai negara.Sekarang entah lambaian tangan selamat datang itu dilambaikan kepada siapa ? pada anarki kah? pada reformasikah? pada polusikah?atau sebenarnya lambaian tangan sepasang remaja tersebut sebenarnya adalah lambaian S.O.S untuk minta diselamatkan dari keangkara-murkaan polusi suara ,polusi udara , minta untuk diselamatkan dan dilindungi dari penyalahgunaan fungsi bundaran HI ,sesungguhnya tidak ada yang tahu dan tidak ada seseorangpun yang dapat menebak arti lambaian tangan tersebut, mungkin juga ‘mereka’ tahu tetapi pura-pura tidak tahu.

Meskipun Monumen Bundaran HI telah direnovasi oleh Pemda DKI dengan dihiasi dengan 5 (lima) Formasi Air Mancur yang merupakan simbol ideologi Negara Republik Indonesia yaitu PANCASILA yang memiliki 5 (lima) sila dan sekaligus juga merupakan simbol dari tanda memberi salam kepada kota Jakarta sebagai kota Ibu Negara dan Kota Metropolitan dengan formasi ucapan Selamat Pagi, Selamat Siang ,Selamat Petang , Selamat Malam dan Selamat Hari Minggu.

Fungsi Bundaran HI sebagai titik jantung ibukota telah berubah fungsi sebagai tempat terbaik untuk kaum demostran Menyuarakan ‘suara hati nurani rakyat’ , meskipun telah diketahui bahwa tidak ada satupun gedung Pemerintahan sebagai sasaran dari aksi demonstrasi itu berada disekeliling area tersebut ,bagaimana pemerintah bisa dan mau mendengar isi orasi-orasi yang disuarakan ? malah akibatnya setiap ada kegiatan di area monumen tersebut menyebabkan kemacetan yang padat dengan hiruk pikuk suara mesin dan klakson pengendara kendaraan bermotor bersaing dengan suara pengeras suara sang orator aksi demo. Hilanglah keindahan dan kemegahan monumen bundaran HI untuk sementara waktu dan agak teraniaya maksud tujuan dari revosai Bundaran HI.

Berdirinya Patung Selamat Datang bertepatan dengan berdirinya Hotel Indonesia, yang dibangun berdasarkan penjiwaan dan daya cipta Presiden Soekarno presiden Republik Indonesia Pertama , dengan maksud supaya Indonesia yang masih dalam muda dalam usia kemerdekaannya memiliki sebuah Hotel bertaraf internasional yang bisa dibanggakan kepada negara-negara lain.Patung Selamat Datang, terletak tepat ditengah piring raksasa dengan bahan patung yang dibuat dari tembaga dengan warna kemerah-merahan dengan simbol lingga-yoni .yang merupakan simbol favorit bung karno dalam mengkreasi suatu bangunan. saat sekarang kondisi patung telah berwarna kehijau-hijauan akibat hujam asam yang sering membasahi tubuhnya hingga burungpun enggan untuk singgah bertengger disana atau burung sudah memang tidak eksis lagi di atmosfir udara jakarta.

Kita semua tahu bahwa selama ini patung tersebut menjadi saksi bisu daripada perkembangan sejarah dan politik pemerintahan bangsa Indonesia dimulai dari pemerintahan Presiden pertama RI dan pergantian presiden selanjutnya, pergantian gubernur DKI-JAYA dan selanjutnya dan lebih khususnya lagi Monumen Patung Selamat datang di Bundaran HI menjadi saksi perkembangan tumbuhnya Kota Jakarta yang tumbuh secara liar tanpa terkendali bagaikan remaja yang tidak terikat pada kaidah-kaidah dan norma norma yang lazim, hal ini dapat terlihat dari arah pencapaian/kedatangan yang menjadi dasar didalam menentukan posisi sepasang patung untuk melambai menjadi tidak jelas karena titik kedatangan telah berubah,tidak lagi dari arah kemayoran( Pelabuhan Udara) dan Tanjung priok (Pelabuhan Laut), tetapi mungkin juga dasar patung ,hingga hari ini tetap saja melambai pada arah yang sama meskipun semua telah berubah.

Denyut nadi berdetak dengan cepat dan sang waktupun berjalan dengan pesat Kota Jakarta menjadi ruang kota yang semakin melebar tanpa arah yang pasti ,Bundaran HI makin bertambah kapasitas pemakai jalannya hingga sekarang kedudukan Monumen Bundaran HI tepat berada dijantung Ibukota, lain dengan dulu saat baru diresmikan ditahun 1962 bundaran HI masih berada didaerah pinggiran kota Jakarta, kita masih bisa kita melihat kondisi Jakarta pada saat Hotel Indonesia berdiri dan pembuatan monumen baru sedang dalam penggalian dasar tempat berdirinya monumen patung selamat datang dari dokumentasi pembangunan Hotel Indonesia ,difoto-foto tua dokumentasi pembangunan dapat dilihat dengan jelas Jalan Sudirman masih sepi dari bangunan-bangunan pencakar langitnya ,dimana Jakarta masih berusia muda untuk berkembang dan masih mudah untuk direncanakan perkembangannya dengan kalimat canggihnya pembuatan MasterPlan Kota- nya .

Monumen Bundaran HI saat sekarang sering dimanfaatkan sebagai Titik Acuan pencapaian , hal ini bisa kita lihat dari kalimat-kalimat promosi real astate atau property, kita mungkin tidak asing dengan kalimat-kalimat ‘Lokasi Perumahan kami hanya 30 menit dari jantung kota’ dan digambarkan Jantung Kota tersebut adalah patung Selamat datang bundaran HI , dan sebagai Titik Orientasi /landmark kota coba kita ingat pada era 80-an monumen bundaran HI pernah dijadikan Latar belakang dari sebuah acara telivisi yang terkenal lewat Putri Malamnya ,Masih ingat? dan kini sebuah Stasiun Telivisi dengan Acara berita juga mengambil lokasi Monumen Bundaran HI sebagai latar belakang layout studio.

Sungguh bermaknanya Monumen bundaran HI sebagai Ciri/identitas dari Kota Jakarta hingga dapat mengalahkan keberadaan pamor Monumen Nasional yang sebenarnya adalah landmark dari Kota Jakarta, atau mungkin karena kawasan MONAS yang telah dibatasi dengan pagar pembatas yang tinggi seakan – akan memisahkan rasa kepemilikan masyarakat sehingga masyarakat Jakarta lebih memilih dan menyukai Monumen Bundaran HI.

Begitu banyak ketertarikan dan kepentingan masyarakat terhadap Monumen Bundaran HI , padahal kita tahu masih banyak monumen air mancur di jakarta yang juga menarik dan baik, seperti Monumen Patung Pemuda diujung jalan sudirman, Monumen Air Mancur Pertamina yang berada di taman martha tiahahu kawasan Blok M Jakarta selatan.
Mungkin karena nilai historis yang berdekatan dengan ” founding father” kah? yang menyebabkan Monumen Bundaran HI terlihat terlebih spesial dan selalu diindat masyarakat atau karena Bundaran HI dikelilingi oleh bangunan-bangunan pecakar langit yang megah dan modern yang seakan – akan menggambarkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di masyarakat jakarta.

Jika berbicara tentang JANTUNG KOTA kita teringat akan PARU-PARU KOTA yang disandang oleh Ruang Terbuka Hijau (RTH) MONAS. Nasib paru-paru kota juga tak jauh berbeda dengan jantung kota ini ,dimana perencanaannya tidak dapat menggambarkan fungsinya secara benar sebagai tempat interaksi sosial masyarakat kota, malah taman kota tersebut sekarang malah seakan-akan terpenjara dan jauh dari jangkauan emosi masyarakat sebagai pemilik taman kota tersebut . Apakah bundaran HI juga akan mengalami nasib sepenanggungan dengan paru-parunya? jika demikian hal yang terjadi maka sekaratlah kota ini.Penduduk Kota Jakarta DKI akan dapat menghirup udara segar dengan membayar di ANCOL, RAGUNAN, TMII jika ada uang lebih dapatlah kiranya menghirup udara segar diluar kota Jakarta yaitu di puast-pusat rekreasi seperti di kebun raya BOGOR ,CIBODAS ,PUNCAK RAYA dan ANYER atau PELABUHAN RATU.

Sudah saatnya Pemerintah Daerah Jakarta mengkaji ulang keberadaan monumen-monumen yang masih berada dikawasan lain di jakarta tetapi sudah tidak terpelihara dengan baik, dan telah jauh dari tujuan utama untuk menjadikan monumen-monumen tersebut sebagai TITIK ORIENTASI PENCAPAIAN pencapaian pada suatu kawasan daripada harus membangun kembali monumen-monumen baru dengan simbol-simbol yang baru .

Kita mungkin pernah mendengar lagu pop Indonesia dengan judul KEMBALIKAN BALIKU ciptaan Guruh Soekarno Putra yang pernah diikutsertakan pada festival Asian Song di Tokyo sekitar tahun 80-an, sekarang tibalah saatnya kita menyanyikan lagu KEMBALIKAN BUNDARAN HI…JANTUNG KOTAKU. meskipun nyanyian tersebut akan sumbang untuk didengar oleh petinggi-petinggi yang berwenang.

Hidup tidak hanya bisa lebih baik dengan kritikan tetapi juga dengan pernyataan karya dan buah pikir yang nyata dan langsung.

Sumber : http://smartlandscape.wordpress.com/2007/09/07/wahai-bundaran-hijantung-kotaku/

 

Monas

Filed under: Uncategorized — ismmils @ 7:16 am

Monumen Nasional lebih dikenal dengan nama Monas, sebuah landmark Indonesia. Salah satu tujuan wisata bagi pelancong dalam maupun luar negeri, yang memiliki fenomena menarik. Bagi pelancong dalam negeri, karena didalam Monas, kita bisa mendengar pidato Soekarno dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia serta melihat diorama peperangan kemerdekaan.

Tugu dengan puncak seperti lidah api berlapis emas itu dibangun pada th 1959, diresmikan pada 17 Agustus 1961 oleh Presiden Soekarno untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah, dan mulai dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Monas dirancang oleh Arsitek F Silaban dan Soedarsono dan Konsultan Rooseno.

Nyala api di puncak yang berdiameter 6 meter dibuat dari perunggu berberat 14,5 ton, dilapisi emas yang didatangkan dari Cikotok seberat 35 kg. Lidah api itu melambangkan semangat yang tak pernah padam melawan penjajah. Cawan pelataran di puncak bawah lidah api, berjarak 17 meter, berukuran 11×11 meter, mampu memuat 50 orang.

Di bagian bawah terdapat cawan yang tingginya 17 meter diukur dari lantai dasar dan 8 meter dari lantai museum. Ukuran cawan 45×45 meter. Ini dimaksudkan sebagai catatan hari kemerdekaan, 17-8-45.

Monas dibangun di kawasan seluas 80 hektare di Merdeka Square. Di sebelah utara dibatasi oleh Jl Medan Merdeka Utara, di sebelah timur oleh Jl Medan Merdeka Timur, di selatan oleh Jl Medan Merdeka Selatan, di barat oleh Jl Medan Merdeka Barat. Di sini banyak kantor pemerintah.

Di bagian utara ada Taman Merdeka, di situ ditempatkan patung perunggu Pangeran Diponegoro menaiki kuda. patung ini karya pematung Italia, Coberlato. Dari sini, pengunjung bisa menjangkau dasar Monas.

Taman di sekitar Monas kini disebut sebagai Taman Monas. Pernah disebut sebagai Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, kemudian Taman Monas. Di Merdeka Square ini, banyak orang bisa berkumpul, untuk tujuan rekreasi ataupun tujuan politik. Di Jl Medan Merdeka Utara ada kantor Presiden dan Wakil Presiden, kantor mahkamah Agung.

Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur, Minggu atau libur sekolah banyak masyarakat yang berkunjung ke sini.


Di ruang museum terdapat diorama peradaban bangsa Indonesia. Ada diorama yang menceritakan zaman megalitikum, zaman kerajaan Sriwijaya, zaman Raja Samaratungga yang membangun Candi Borobudur, zaman Raja Airlangga yang membangun tanggul untuk mencegah banjir, zaman Singasari yang menahan serbuan tentara Kubilai Khan. Ada pula replika naskah proklamasi dari emas. Di sini pula diperdengarkan rekaman suara Sukarno saat membaca teks proklamasi.

 

Fasilitas di taman ada lapangan futsal, area berlari, tapak refleksi, lapangan senam. Ada pula atraksi perpaduan laser multiwarna tiga dimensi yang membuat Tugu Monas bisa berubah warna di malam hari. Ada juga atraksi air mancur pesona mas

 

Sumber: http://mdltravel.indonesiatravel.biz/?tag=monas

 

Warnet Unik November 13, 2010

Filed under: Uncategorized — ismmils @ 7:48 am

UNIK nya WARNET di JEPANG !

Mumpung hari libur, yuk kita lihat-lihat seperti apa sih WarNet (Internet Cafe) di Jepang sana.
Seperti juga di Indonesia, internet cafe di Jepang juga cukup banyak walaupun boleh dibilang hampir setiap rumah sudah mempunyai koneksi internet. Dan kebanyakan juga buka selama 24 jam.

Ada beberapa hal mendasar yang membedakan antara WarNet disana dibandingkan dengan disini yaitu harga (mahal banget), kecepatan (cepet banget), kebutuhan (kaga cuma untuk internet).

Bicara mengenai harga, seperti biasa apa sih yang murah disana? 🙂 Lama penyewaan mulai dari 15 menit sampai setengah hari dengan biaya rata-rata sekitar 500 Yen (sekitar 50.000 rupiah) untuk 15 menit dan 1500 Yen (150 ribu rupiah) untuk 7-9 jam.

Nah, kalau bicara kecepatan sih tidak usah ditanya, rata-rata kecepatan internet disana saat ini minimal 10 Mbps jadi pasti jauh lebih cepat dibandingkan disini (Indonesia).

Internet cafe di Jepang juga kebanyakan tidak hanya sekedar tempat untuk ber-internet ria tetapi juga biasanya kita bisa membaca buku komk (manga) secara gratis dengan koleksinya yang lumayan banyak.

Dan bicara mengenai tempat itu sendiri, mereka biasanya membaginya dalam 2 bagian yaitu ruangan terbuka dan ruangan tertutup untuk privasi dengan bentuk bilik-bilik kotak (cubicles).

Dan tergantung permintaan, kita bisa memilih untuk satu bilik bisa diisi 1 orang, 2 orang atau lebih dari 2 orang. Dan kadang, mereka juga menyiapkan 2 komputer dalam satu bilik.

Sebagian besar bilik tersebut sudah dilengkapi dengan berbagai macam alat, mulai dari komputer itu sendiri, webcam, mic dan juga TV untuk menonton.

Bagi anda yang perokok seperti kami, jangan kuatir mereka juga menyediakan tempat bagi para perokok, lihat aja foto dibawah, itu ada asbak kan?? 😀

Walaupun sedikit mahal untuk ber-internetan disini, ada satu hal yang lumayan membuat kita sedikit senang yaitu kita bisa minum sepuasnya sampai kembung (dan GRATIS) kecuali untuk makanan kecilnya, kita harus bayar. 🙂

Terakhir, bicara soal kebutuhan, belakangan ini ternyata internet cafe disana tidak sekedar untuk internet tetapi juga sebagai tempat tidur bagi orang-orang tertentu seperti pekerja paruh waktu atau sama seperti Love Hotels digunakan juga untuk tempat untuk bermalam bagi orang yang sudah ketinggalan kereta.

Alasannya sama saja dengan Love Hotels, yaitu internet cafe jauh lebih murah dibandingkan dengan mereka menginap di hotel, ditambah selain bisa tidur, mereka juga bisa internetan, baca komik (manga), mandi air hangat (ada kamar mandi tetapi harus bayar biasanya) bahkan minum sampai kembung. 😀

Satu hal yang sebenarnya sekarang menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah disana seiring dengan meningkatnya pengganguran dan juga orang yang mendadak tidak punya tempat tinggal (homeless) adalah keberadaan internet cafe sudah mulai berubah fungsi sebagai rumah sementara bagi mereka yang tidak punya tempat tinggal.

 

 

 

 

 

 

 

Makalah wordpress

Filed under: Uncategorized — ismmils @ 7:16 am

Makalah wordpress

 

seni gambar kontemporer November 12, 2010

Filed under: Uncategorized — ismmils @ 6:53 am

SENI GAMBAR KONTEMPORER INDONESIA: Gambar dalam Perjalanan Sejarah Seni Rupa Barat

 

SENI GAMBAR KONTEMPORER INDONESIA SENI GAMBAR KONTEMPORER INDONESIA: Gambar dalam Perjalanan Sejarah Seni Rupa Barat

 

BERNETT Newman, salah satu seniman papan atas Amerika, pernah berujar manusia yang pertama menjadi seniman adalah pada saat dia menorehkan sebuah garis di atas permukaan tanah menggunakan sebilah kayu. Torehan garis tersebut bisa dianggap sebagai gambar pertama. Gambar tampaknya selalu menyertai perjalanan peradaban dan kebudayaan manusia. Karena itu, tak mengherankan jika gambar menjadi wilayah sangat penting dan tak dapat dipisahkan dari dunia seni dan seniman. Sebetulnya “menggambar”, seperti corat-coret, membuat sketsa, membuat bagan dan sebagainya merupakan salah satu cara seniman (dan para perancang) dalam menvisualisasikan gagasan yang ada dalam kepalanya. Karena itu menggambar sesungguhnya juga merupakan upaya pengkongkretan imajinasi, gagasan seniman. Tentu saja setiap bentuk karya seni sesugguhnya merupakan bentuk pengkongkretan gagasan sang seniman, namun gambar menduduki posisi istimewa sebab dalam prosesnya merupakan visualisasi konkret yang paling awal, spontan dan langsung. Hal itu diutarakan dengan gamblang oleh G. Sidharta Soegijo: “Salah satu cara yang paling langsung untuk menghubungkan proses berpikir, yang berlangsung secara abstrak, dengan bentuk visual, yang konkret, adalah melalui gambar.”

Dalam nada yang sama, Kate Macfarlane dan Katharina Stout berujar: “It is to drawing that many artists turn when they are not sure how to proceed with a particular line of enquiry, or how to realise an ambitious proposal. As Avis Newman suggests, drawing offers the most direct access to the intimate workings of the artist’s mind: ‘I have always understood drawing to be, in essence, the materialisation of a continually mutable process, the movements, rhythms, and partially comprehended ruminations of the mind: the operations of thought. For this reason alone, drawing will always be at the heart of the visual arts‘.”

Gambar menjadi bagian penting dalam perjalanan seni rupa Barat sejak masa Renesans sampai pada masa modern. Akademi seni di Eropa sejak abad 16 sampai abad 19 menekankan pentingnya gambar sebagai tulang punggung seni lukis dan seni patung. Apa yang dikenal sebagai akademisme, tak lain adalah formulasi dan pendekatan seni rupa yang menekankan pentingnya kemampuan menggambar bagi seorang seniman. Hal itu bisa kita lihat dari peninggalan gambar-gambar para pelukis-pelukis terkenal Eropa sejak masa Renesans sampai era seni rupa modern. Karena itu, sungguh mengherankan bahwa gambar—atau lebih tepat seni gambar—menjadi kategori seni yang otonom baru beberapa tahun belakangan ini.

Agaknya, fungsi gambar sebagai preparatory—kerja persiapan untuk menghasilkan lukisan—menjadikan gambar tenggelam di bawah medium atau kategori seni yang disokongnya, yaitu seni lukis, seni patung dan seni grafis. Menjadi perangkat preparatory menjadikan gambar dibutuhkan, namun sekaligus diletakkan bukan sebagai tujuan akhir. Kendati gambar, atau kemampuan menggambar merupakan hal penting dalam seni lukis dan seni patung, namun hal itu lebih bertautan dengan proses penyiapan dalam eksekusi lukisan. Tentu saja yang dianggap lebih penting adalah hasil akhir atau tujuan akhir, yaitu lukisan atau patung. Tujuan akhir merupakan supremasi, dan dalam tradisi fine art apa yang menjadi akhir adalah yang utama, seperti dijelaskan oleh Mortimer J. Adler: “These are the arts that later came to be called the fine arts, when the word ‘fine’ is understood to mean ‘finis’ and to signify that the works produced by these arts were things to be enjoyed for their own sake, not to be used as means to further ends.”

Sejak masa Renesans ketrampilan menggambar menjadi bagian penting dalam melukis. Sejak masa Renesans pula seni lukis menjadi kategori seni tinggi (high art) yang otonom. Maka tak mengherankan di era seni rupa modern, lukisan merupakan kategori seni yang paling penting. Ironisnya supremasi seni lukis dicapai melalui dukugan yang tak lekang dari gambar. Agaknya, karena terlalu lama menservis seni lukis dan patung menyebabkan status atau kedudukan gambar menjadi problematik, sebagaimana diutarakan oleh Emma Dexter, “Yet the medium’s status has always been problematic, due to its servitude to the arts of painting and sculpture, as well as its association with preparation and incompletion.”

Pelukis kenamaan Perancis Ingres pernah berujar mengenai pentingnya gambar untuk painting, “If I were to put a sign above my door, it would read School of Drawing, and I’m certain that I would produce painters.” Hal itu tampaknya berlaku secara universal. Bukankah hal itu pula yang telah dibuktikan oleh Balai Universitas Pendidikan Guru Gambar (dibuka tahun 1947) yang menjadi cikal bakal seni rupa ITB?

Untuk menjadi kategori seni yang otonom ternyata gambar masih membutuhkan perjalanan panjang. Seni rupa modern yang lebih mementingkan konsep, semakin menempatkan gambar—sebagai proses preparatory—semakin tidak penting. Dari masa Renesans sampai akhir abad 19 virtuositas menggambar sepertinya menjadi keharusan bagi seniman agar dapat menghasilkan karya lukis dan patung yang berkualitas. Sebaliknya seniman modern justru mencurigai hal-hal yang berkait dengan aspek ketrampilan, termasuk ketrampilan menggambar. Deanna Petherbridge, seorang prefesor dalam bidang gambar menjelaskan situasi diametrikal antara masa klasik dengan kepercayaan pada pendekatan akademik melawan masa modern yang mendestruksi pendekatan akademik, “The practice of art in this century has been no less closely tied to education than it has in other times. Eighteenth-century neoclassicism, for example, is as closely allied with the spread of the academies. As modernism has been with the destruction of the academic system. The academy, as we all know, was posited on the teaching of life gambar, in fact learning art in the West since Renaissance has been entirely to do with question of disegno—as both drawing and composisitional design.”

Maka tak mengherankan jika bagi para seniman modernis, gambar, khususnya dalam pendekatan akademis menjadi wilayah yang tidak penting. Tentu saja seniman modern tetap membutuhkan visualisasi bagi gagasan dan pemikirannya, namun hal tersebut tak harus diterapkan melalui ketrampilan gambar yang canggih. Gambar atau sketsa yang dihasilkan oleh para seniman modern, konseptual dan avant garde tidak menunjukkan virtuositas gambar seperti para seniman di abad-abad sebelumnya. Formalisme dan pencarian esensi seni lukis telah menggeser pentingnya gambar sebagai proses preparatory untuk melukis. Karena itu segi ketrampilan menggambar ala akademisme (kemampuan gambar anatomis) makin hilang dan tidak penting di masa-masa seni rupa modern dan era neo avant-garde, yaitu masa-masa transisi dari seni rupa modern menuju seni rupa kontemporer.

Demikian pula, di masa-masa tersebut akademi seni rupa di Barat memandang pembekalan ketrampilan, termasuk gambar semakin tidak relevan, dan mengurangi secara drastis mata kuliah menggambar. Hal yang dikenal dengan sebutan de-skilling ini berkaitan (catatan dari subject of art) dengan arahan dan prioritas utama pada segi konsep. Proses menuju de-skilling ini agaknya sesuai dengan paradigma seni rupa modern, dan dalam beberapa hal kemudian juga ditunjukkan oleh seni rupa kontemporer—khususnya dalam karya-karya yang bersifat transgresif. Kendati kemudian juga terbukti bahwa seni rupa kontemporer menunjukkan pula karakter yang berlawanan dengan kecenderungan de-skilling, yaitu munculnya kembali (revival) kebutuhan terhadap skill atau ketrampilan.

Gambar Sebagai Wilayah Otonom dalam Seni Rupa Kontemporer

Setelah di akhir tahun 60-an sampai tahun 80-an gambar dianggap kurang penting dalam ruang lingkup pendidikan seni rupa, maka tahun 90-an ditandai dengan kegelisahan karena makin berkurangnya kemampuan menggambar para mahasiswa seni rupa. Ada upaya-upaya untuk “back to basic”, yaitu mengembalikan gambar sebagai variabel penting dalam seni rupa—termasuk dalam pendidikan tinggi seni rupa. Hal itu misalnya ditunjukkan oleh sebuah konferensi yang diadakan oleh Tate Gallery tahun 1993-1994 mengenai The role of drawing in Fine Art Education. Hal itu kemudian ditandai pula oleh dibukanya program studi gambar di beberapa perguruan tinggi seni rupa di Barat.

Di masa sebelumnya, kita tahu bahwa seni lukis modern yang puncaknya ditunjukkan oleh abstrak ekspresionisme mengalami kebuntuan. Perkembangan lebih lanjut yang ditunjukkan oleh Pop Art, Conceptual Art dan Minimal Art merupakan masa transisi dari seni rupa modern menunju seni rupa kontemporer. Penentangan pada konteks spiritual kesenimanan dan sublimasi seni lukis menyebabkan seni lukis pada awal tahun 70-an mendapatkan stigma, dan untuk beberapa saat mengalami titik nadir. Performance, happening, eart art, dan bentuk-bentuk seni patung dalam sense sculpture in extended field menjadi utama. Hal itu kemudian disusul oleh new media art. Namun secara perlahan tapi pasti seni lukis kembali menunjukkan kebangkitannya. Berbeda dengan masa seni lukis modern, seni lukis kontemporer bangkit dengan menempatkan dirinya sebagai kemungkinan medium representasional—bukan sebagai entitas esensial dan sublim seni rupa.

Pluralitas seni rupa kontemporer menunjukkan dirinya dengan menerima setiap kemungkinan seni, baik dari segi pemikiran (teori), konsep, medium, material dan ruang kehadiran serta asal usul seniman. Terbukti bahwa seni rupa kontemporer semakin menunjukkan wajah globalnya. Tentu saja tak bisa dipungkiri tetap hadirnya kekuatan-kekuatan penentu di balik praktek produksi dan konsumsi seni rupa kontemporer. Sebagai contoh, tak bisa disangkal bahwa kebangkitan seni lukis tidak lepas dari maraknya pasar seni rupa, dan itu ditandai oleh maraknya art-fair di pusat-pusat ekonomi dunia, termasuk pusat-pusat ekonomi baru.

Yang menarik, bangkitnya gambar atau lebih tepat seni gambar dalam dekade terahir ini ditengarai tidak lepas dari come-backnya seni lukis. Seni lukis melihat peluang bahwa seni rupa kontemporer dengan kepercayaan pada pluralisme dan “apapun boleh” (anything goes) tidak memiliki alasan untuk menolak eksistensi seni lukis. Agaknya, melihat hal itu, para seniman yang tertarik dengan gambar sebagai kemungkinan medium seni rupa kontemporer mulai menampilkan dirinya. Karena itu Emma Dexter, editor Vitamin D (buku kompilasi seniman gambar yang paling komprehensif saat ini) berpendapat bahwa popularitas seni gambar sedikit banyak disebabkan oleh kembali populernya seni lukis: “In painting’s slipstream followed the shy sibling, gambar, arriving without any apologies or explanation. Gambar had never been widely theorized in its own right, allowing the field to be open for the artists to make of it what they choice.”

Selain itu, popularitas seni gambar ditengarai dodorong oleh arus balik pada hal-hal yang lebih moderat dan sederhana, setelah praktek seni rupa tahun 70an sampai 90-an disibukkan oleh aspek monumental seni. Hal itu diutarakan oleh Emma Dexter: “But when drawing first started to emerge autonomously in the mid-1990s, it was also the perfect medium to contrast with the sort of art that preceded it. Circa 1990, contemporary exhibition were dominated by a form of monumentalism, one that ironically trumpeted its decosntruction of the monument yet aped the monument’s hunger for the space, power and theatricality.”

Seni Gambar Kontemporer Indonesia

Dalam konteks seni rupa modern Indonesia gambar atau istilah gambar menduduki posisi penting. Sebelum istilah seni atau seni lukis dipergunakan dan populer, maka “gambar” merupakan istilah yang kerap dipergunakan untuk menunjuk beragam seni rupa 2 dimensi. Tentu kita masih ingat keberadaan Persagi, singkatan dari persatuan ahli-ahli gambar Indonesia, kendati yang terutama dipraktekkan adalah seni lukis. Istilah gambar dapat merujuk pada seni lukis karena seni lukis selalu menggambarkan seseorang atau sesuatu, lukisan adalah gambar atau gambaran tentang sesuatu. Hal itu juga menunjukkan bahwa istilah gambar, khususnya dalam konteks budaya Indonesia masa lalu memiliki pengertian yang lebih luas dari pengertian drawing. Sanento Yuliman almarhum dengan cakap menjelaskan hal tersebut: “Yang pertama-tama perlu diingat dalam membicarakan gambar ialah bahwa kata “gambar” mempunyai lingkup pengertian yang luas. Yang tampak di layar televisi ketika pesawat dihidupkan, yang kelihatan di layar bioskop ketika film main, demikian juga foto di harian dan majalah, lukisan, peta, denah, grafik, dan sebagainya, itu semua dalam bahasa Indonesia disebut “gambar”.

Saat ini pengertian istilah gambar tampaknya menyempit, khususnya dalam medan seni rupa kontemporer Indonesia, mendekati pada pengertian drawing dalam bahasa Inggris. Namun demikian apa yang diutarakan Sanento Yuliman menunjukkan bahwa potensi seni rupa—apapun mediumnya—sebagai wilayah penggambaran (representasi) sesuatu hal atau persoalan merupakan hal yang mudah diterima sejak lama. Karena itu, tak mengherankan jika gambar sebagai wilayah atau kategori seni yang otonom mudah diterima oleh masyarakat. Hal itu ditunjukkan oleh penerimaan yang cukup terbuka pada karya-karya seni gambar. Terbukti, saat ini beberapa seniman muda menjadi populer semata-mata menggunakan teknik/medium gambar dalam berkarya.

Pameran ini menandai apa yang dijelaskan oleh Laura Hoptman, “it also mark a moment when drawing has become a primary mode of expression for the most inventive and influential, artist of the time.” Terbukti, wajah seni rupa kontemporer Indonesia ditandai oleh karya-karya yang dikerjakan dengan teknik gambar dan masuk dalam kategori gambar, atau dalam hal ini lebih tepat disebut seni gambar. Barangkali istilah seni gambar terlalu berlebihan, sebab dalam bahasa Inggris cukup disebut drawing, bukan drawing-art. Namun, penyebutan seni gambar memang sebuah penekanan, seperti juga istilah seni lukis dan seni patung yang merupakan padanan istilah painting dan sculpture. Dengan demikian, jelas bahwa pameran ini berkenaan dengan gambar sebagai karya seni, khususnya dalam konteks seni rupa kontemporer.

Namun demikian, saat ini, tak mudah menetapkan secara tegas batasan seni gambar. Dalam beberapa hal seni gambar bergerak masuk dalam batasan seni lukis. Hal itu contohnya ditunjukkan oleh beberapa seni kontemporer kelas dunia yang karyanya dianggap sebagai drawing, namun juga diketegorikan sebagai painting. Menurut Emma Dexter karya-karya Marlene Dumas dan Elizabeth Payton menunjukkan kualitas “antara” (drawing dan painting): “In the case of Dumas, gambar has always featured heavily in her exhibitions, the juxtaposition between the more final and ‘developed’ form of painting and the immediacy of gambar being an essential element in the presentation of her work. In other cases, artists such as Elizabeth Peyton and Katharina Wulff have blurred the distictions between drawing and painting, transferring some of the fragility and immediacy of drawing into their painting. Using thin paint or combining media to leave the white ground uncovered, thus gaining an increased sense of immediacy and responsiveness from a medium often associated with closure and ponderausness.

Penjelasan serupa ditunjukkan oleh Deanna Petherbridge, yang merujuk karya David Salle dan Anish Kapoor: “Salle’s triptych ‘walking the dog’ of 1982 is in oil and acrylic on cotton, although it is andoubtedly drawn in line, and Kapoor’s gouaches and moulded paper pieces from his Tate exhibition of 1989 are designated ‘gambar’ althought they have nothing to do with line.”

Dengan ketiadaan spesifikasi medium, maka cukup sulit untuk menetapkan definisi gambar yang pasti. Kita sepertinya “mengerti” apa itu gambar, namun benarkah demikian? Karena apa yang kita sebut gambar bisa cukup beragam dan berbeda karakternya. Di sisi lain cairnya batasan gambar justru merupakan sebuah berkah, karena akan melebarkan kemungkinan-kemungkinan seni gambar, pun tak masalah jika tumpang tindih dengan wilayah atau medium lain. Bukankah atmosfir seni rupa kontemporer ditandai oleh ketidaksukaan pada batasan yang pasti dan definitif?

Sebelumnya disebut bahwa di masa lalu gambar belum sampai pada kondisi otonom. Namun jika sekarang gambar menjadi medium yang “otonom” tentunya tidak dalam sense beranalogi dengan otonomi seni yang kaku. Karena seni sebagai wilayah otonom dianggap sebagai konstruksi yang diangan-angankan oleh seni rupa modern—yang terbukti tidak tercapai. Yang dimaksud gambar sebagai seni yang otonom adalah keberadaan gambar sebagai tujuan akhir ekpresi seni—bukan sebagai preparatori atau sketsa. Karena itu karakter bahwa seni gambar menjadi medium akhir (selesai sebagai karya seni) tidak diikuti oleh ketentuan formulatif atau absolut mengenai “kebenaran” seni gambar. Seni gambar mengikuti kaidah seni rupa kontemporer yang pluralis: segala macam kemungkinan seni gambar berhak hidup. Karena itu, menurut para pengamat, seni gambar mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga batas-batasnya pun meluas, yang dalam istilah Emma Dexter disebut drawing within an expanded field —mengingatkan kita pada istilah sculpture in the expanded field.

Harus diakui Pameran Seni Gambar Kontemporer bukanlah upaya menyuruk untuk memeriksa sejauh mana seniman menterjemahkan atau mencari kemungkinan seni gambar. Arah yang diambil dalam pameran ini lebih sederhana, yaitu menunjukkan bahwa gambar dapat menjadi media yang otonom untuk ekpresi kesenian—dalam konteks seni rupa kontemporer. Karena itu, sekali lagi, penyebutan seni gambar merupakan penekanan bahwa medium atau teknik gambar merupakan pilihan utama sang seniman dalam menghasilkan karya seni. Dengan kata lain pameran ini menekankan bahwa karya-karya yang ditampilkan adalah karya-karya dengan tujuan akhir adalah “karya seni” yang “selesai”, bukan semata-mata eskperimentasi gambar. Dalam upaya meletakkan gambar—yang selama ini dipandang sebagai proses preparatori untuk seni lukis dan patung, atau visualisasi awal gagasan—sebagai sebuah karya “seni gambar” yang mandiri maka meletakkannya sebagai kemungkinan representasi agaknya menjadi pilihan utama dalam pameran ini.

Maka, dalam pameran ini, konten representasi menjadi alibi bahwa karya yang ditampilkan adalah karya seni. Dengan kata lain pameran ini menegaskan bahwa dengan teknik gambar pun konten, subyek matter atau permasalahan yang hendak disuarakan dapat tampil dengan maksimal. Karena itu, bukan tanpa alasan bahwa para seniman diminta untuk menyuguhkan kemungkinan teknik gambar di atas kanvas. Hal ini tentu saja sama sekali tidak menciderai pengertian gambar, sebab istilah drawing on paper, menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan salah satu kemungkinan seperti juga kemungkinan drawing on canvas. Lagi pula hal tersebut pun telah ditunjukkan oleh banyak seniman yang memanfaatkan teknik gambar di atas kanvas dalam karya-karyanya. Bagaimanapun kanvas memiliki aura yang lebih dibandingkan kertas. Tentu saja hal ini tidak meniscayakan bahwa gambar di atas kertas lebih rendah. Pada akhirnya adalah persoalan pilihan, beberapa seniman memilih tetap menampikan karya seni gambar menggunakan kertas.

Namun demikian, terlepas dari konteks konten dan representasinya, perkara keragaman, eksplorasi dan konsep tentang gembar juga menjadi bagian penting yang menyertai pameran ini. Keragaman dan berbagai pendekatan gambar ditunjukkan dalam pameran ini, baik dari pengertian yang paling konvensional, sampai seni gambar yang cukup eksperimental. Demikian pula muncul karya-karya gambar yang sulit dibedakan dengan seni lukis. Hal itu harus diterima sebagai refleksi beragamnya pengertian dan kemungkinan seni gambar.

Selain itu, cukup menarik bahwa popularitas seni gambar muncul saat seni media baru menjadi bagian penting dalam seni rupa kontemporer. Agaknya ada relasi mutualistis, komplemen dan saling melengkapi. Perkembangan teknologi digital agaknya menyebabkan servis gambar terhadap proses melukis, khususnya seni lukis realis—yang kembali populer belakangan ini.—menjadi sangat berkurang. Saat ini proses penyapan dan pengerjaan seni lukis dan patung lebih mudah dibantu dengan perangkat digital, seperti kamera digital, software komputer dan proyektor LCD. Hal ini semakin membebaskan tugas gambar sebagai alat atau media bantu bagi seni lukis. Barangkali karena itu, belakangan banyak seniman memanfaatkan gambar sebagai wilayah otonom, sebagai terminal akhir praktek seninya. Yang menarik, bahkan seniman gambar pun saat ini memanfaatkan bantuan foto dan proyektor LCD dalam prose’s penyiapan dan pengerjaan seni gambarnya.

Tentu disadari bahwa pameran ini tidak akan dapat memberikan gambaran yang komprehensif dan inlukisf mengenai kenyataan sesungguhnya seni gambar dalam medan seni rupa Indonesia. Namun demikian, sebisa mungkin diupayakan keragaman seni gambar dapat diperlihatkan. Hal itu ditunjukkan mulai dari seni gambar yang menunjukkan kepiawaian membentuk dengan tarikan garis yang ekspresif dan artistik sampai karya-karya yang serupa dengan gambar komik.

Seperti telah disebutkan di awal bahwa gambar selalu menyertai peradaban dan kebudayaan manusia. Segala jenis citraan dalam kebudayaan tradisi umumnya merupakan gambar, baik berupa sungging, rajahan, maupun ukiran di berbagai material. Karena itu dirasa penting untuk menampilkan seni gambar dari ranah tradisi, dan sepertinya Bali merupakan wilayah yang paling tepat untuk dipilih. Bagaimanapun di Bali gambar sebagai sebentuk seni tradisi dapat bertahan dan tembus ke era modern. Hal itu ditunjukkan bagaimana para seniman Bali legendaris macam Lempad dan banyak lainnya dapat mengindividuasi pakem gambar tradisi menjadi suatu karya yang personal namun tetap dapat menunjukkan identitas dan karakter ke Balian. ***

(Catatan ini rencananya menjadi pengantar dalam katalog Pameran Seni Gambar Kontemporer yang pamerannya telah diselenggarakan tahun 2009 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta)
*) Penulis adalah Kurator dan staf pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain, ITB. / Indonesian Art New

 

 

Lokasi wisata unik

Filed under: Uncategorized — ismmils @ 6:34 am

Bingung cari tempat piknik? Pilih aja lokasi yang bagus ini…

Blue Lagoon, Islandia

Tempat ini dipenuhi dengan banyak kolam buatan yang berisi material dari aktivitas gunung berapi. Air dengan kaya mineral yang terdapat di sini dipercaya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Saat musim dingin, uap panas muncul dari kolam yang dikelilingi salju dan es, sehingga menciptakan suasana yang mencekam.

Haleakala, Hawaii


Haleakala, kawasan gunung berapi ini mengelilingi Maui, Hawaii. Saban tahun hampir lebih dari 1,5 juta orang mengunjungi Haleakala. Mereka terkadang hanya sekadar ingin menyaksikan matahari terbit atau tenggelam, dengan pesona yang amat dramatis, juga menyaksikan kawah besar di gugusan Haleakala. Nama Haleakala berasal dari bahasa Hawaii yang berarti rumah matahari. Menurut legenda, manusia setengah dewa dari Maui telah menyimpan matahari di tempat ini untuk memperpanjang waktu siang.

Chocolate Hills, Filipina


Bukit kapur Choclolate Hills seluas 20 mil persegi yang terletak di Pulau Bobol, Filipina, yang ditutupi hampir 1300 rumput. Bukit kapur ini berketinggian sekitar 100 hingga 400 kaki. Saat musim kering, bukit ini menyerupai cokelat chip raksasa. Berdasarkan legenda setempat, bukit ini terbentuk dari kotoran kerbau raksasa yang diberi makanan beracun oleh petani setempat. Namun, para ilmuwan menyimpulkan bahwa bukit tersebut terbentuk akibat puing-puing vulkano.

Craters of The Moon National Park


Craters of The Moon National Park di Idaho, merupakan kawasan menyerupai bulan yang dapat Anda dijumpai di Amerika Serikat. Terbentuk dari erupsi gunung berapi yang terjadi 15.000 tahun silam, tercipta lapangan lava seluas lebih dari 600 mil persegi. Kekuatan erupsi lalu menciptakan bara berbentuk kerucut dan cerukan lava.

Racetrack Playa, California

Racetrack Playa di Death Valley National Park, California AS, saat ini dikenal sebagai batu seluncur yang misterius. Danau kering ini beralaskan batu dan sediment lumpur. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat batu-batu tersebut bergerak. Tapi, teori yang berkembang menyatakan bahwa pergerakan tersebut akibat angin yang berhembus kuat dan akibat penyusutan es. Dampaknya terjadi saat musim hujan, dimana permukaan danau yang dangkal menjadi licin.

Cappadocia, Turki


Cappadocia di Turki menampilkan formasi batu unik yang biasa disebut “peri cerobong asa”. Cappadocia terbentuk dari aktivitas geologi dan gunung berapi, termasuk cuaca dan erosi, yang terjadi sekitar 60 juta tahun Islam. Tahun 2000 lalu, kaum Nasrani membangun gereja pertama di kawasan bebatuan unik itu.

Laut Mati, Timur Tengah


Tepian laut dengan air asin yang disebut Laut Mati ini adalah yang terendah di bumi, yaitu hampir 1.400 kaki dibawah permukaan laut. Air di sini lebih asin ketimbang air di samudera, karena kadar garamnya yang tinggi sehingga memungkinkan makluk hidup dapat mengapung di atas air. Perairan Laut Mati banyak dimanfaatkan untuk terapi kesehatan. Air danau raksasa ini terus menyusut, karena ada lubang yang berbahaya.

Madagaskar, Afrika Tenggara

Di Pulau Madagaskar, di pesisir tenggara Afrika, hutan pohon berakar panjang banyak terdapat di sini. Pohon tersebut mampu menyerap air dalam jumlah besar dan berketinggian 100 kaki dengan diameter hampir 400 kaki.

Pamukkale, Turki

Karang Pamukkale di Turki, hampir menyerupai air terjun yang membeku ketimbang sumber panas. Karang terjal dan danau dangkal terbentuk dari aktivitas gunung berapi dan mengandung kadar kalsium tinggi. Nenek moyang bangsa setempat meyakini panas yang ditimbulkan adalah pengobatan yang diberikan Tuhan dan mengembangkan kota kuno di atas bukit.

Gurun Pasir Erg Chebbi, Maroko


Gurun Pasir Erg Chebbi yang berada di bagian tenggara Maroko, terbentuk dari pasir yang ditiup angin yang kini memiliki ketinggian hingga 500 kaki. Desa Merzouga, sekitar 4 jam perjalanan dari Marrakesh, Ibu Kota Maroko, berlokasi di tepi bukit pasir ini. Wisatawan dapat membangun kemah di sini, mengendarai unta, dan menyaksikan matahari terbit serta tenggelam. Menurut legenda, bukit pasir ini tercipta akibat hukuman Tuhan yang menimpa penduduk lokal karena telah mengusir seorang petualang.

Devil’s Tower, AS


Terletak di atas bukit vulkano, Devil’s Tower memiliki puncak dengan ketinggian lebih dari 5.000 kaki. Selain kerap menjadi tujuan utama untuk pendakian, inilah tempat spiritual bagi sejumlah suku asli Amerika. Biasanya, para pendaki tidak melakukan kegiatannya saat Juni, saat upacara sakral berlangsung di sini.

Kata Kjuta, Australia


Formasi batu pasir Kata Kjuta, seperti Uluru, terbentang di gurun Australia menutupi alam sekitarnya. Tidak hanya diperuntukkan sebagai taman nasional, tempat ini juga menjadi kawasan spiritual bagi suku Aborigin. Mulai fajar hingga menjelang petang, pancaran sinar matahari menciptakan banyangan warna merah hingga kecokelatan pada formasi batu.

Mirny Diamond Mine, Siberia


Mirny Diamond Mine di Siberia adalah kawah terbesar kedua di dunia yang dibuat oleh manusia. Jalur menuju dasar kawah mencapai 1.700 kaki ke areal tambang emas yang setiap tahun menghasilkan 2 juta karat. Transportasi udara dari atas ke kawah sangat terbatas untuk helikopter setelah sejumlah kecelakaan akibat aliran udara.

Bryce Canyon National Park, AS


Berlokasi di tenggara Utah, Amerika Serikat, Bryce Canyon National Park dikenal karena formasi geologisnya yang disebut hoodoos. Sedimen dari danau dan aliran yang sudah ada sejak 40 juta tahun lalu yang telah terkikis, membentuk formasi ini. Perubahan warna dari merah muda menjadi merah tua, lalu oranye, adalah hasil dari deposit mineral di batuan sedimentasi.

Sumber : http://wonders4u.wordpress.com/2010/10/28/tempat-wisata-unik/